FILOSOFI TERAS

Kalau sudah sempat baca versi canva dengan halaman yang cantik, silahkan langsung menuju bagian sambungannya ya.

Tujuan Stoisisme adalah manusia bernalar dan selaras dengan alam. Apa yang terjadi adalah buah dari rangkaian peristiwa Panjang yang mungkin, tidak bisa kita kendalikan sebelumnya. Contoh kelahiran kita. Maka sia-sia untuk menyesali sesuatu yang di luar kendali kita. Manusia diciptakan untuk selaras dengan alam atau menjadi jati diri manusia itu sendiri. Manusia dilahirkan untuk bekerja dan mencari pengalaman dalam setiap harinya. Ini seperti kata-kata bijak, pagi hari burung terbang untuk mencari makan, dan petang mereka kenyang ketika Kembali ke sarang. Intinya adalah berusaha. Klaim Henry Manampiring tentang stoisisme adalah tidak ada tembok antara agama ataupun kepercayaan di dalam sini. Stoisisme lebih mirip dengan kata-kata bijak dari sana dan sini, dari berbagai sudut, bahkan seperti kata kakek kita atau nenek kita. Kesimpulannya, begitu dekat dan melekat. Seneca dalam Stoisisme mengatakan kata “cukup”, bahwa kalau dimaknai, tidak akan pernah ada rasa cukup kalau kita terus menerus mengikuti opini orang—sesuatu yang sedang popular pada saat ini. Lebih mirip, belajar merasa cukup. (Tiadanya keinginan untuk mengingini sesuatu) Oleh Epictetus (penyebutan nama-nama sangar ini butuh kesabaran saat membaca, karena Namanya sedikit beda dengan orang Jawa, coba Namanya Joko atau Kang Marto, lebih nyaman saja nyebutnya) keresahan atau kecemasan itu tergantung pemaknaan yang kita berikan pada suatu peristiwa (positif atau negatif), sementara kejadian bersifat netral. Isinya, bahasanya, lebih sederhana dari buku yang pernah say abaca “Berani Tidak Disukai”. Contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari juga jauh lebih ‘nyambung’. 

Ada tips STAR (STOP. THINK& ASSESS, RESPOND) di buku ini, ini untuk memudahkan kita saat tiba-tiba ada pemicu sebuah kejadian yang mungkin mengarah ke emosi negatif. 
 1. STOP (menghentikan pikiran negatif dengan mengucapkan “berhenti, cukup, atau time out, di dalam kepala kita) Ini mirip dengan tips dari dr.Aisah Dahlan ketika otak reptile kita aktif (lawan atau tinggalkan, fight or fly)

 2. THINK& ASSESS (dipikirkan dan dinilai—kita menjadi sudut pandang orang ketiga, dimana hal ini dilakukan supaya kita lebih netral dalam menghadapi situasi yang sudah terjadi, posisi menahan laju emosi) 

3. Barulah kita RESPOND apa yang sudah kita nalar tadi.

(Heran tapi kok keren) Ini isinya pakai otak semua, sedangkan saya masih mikir, berapa persen otak main di sini. Harus cukup hati-hati di beberapa bagian memang selucu itu, di tengah keseriusan baca, lagi-lagi penulis membikin kita senyum sendiri di depan buku, bahaya gak tuh? 

Di bagian yang berjudul Inner Citadel, ijinkan saya menyanyikan lagu Payung Teduh, kira-kira seperti ini, Di atas meja rindu itu hilang dalam kata-kata Sebentar lagi kita saling lupa Mengapa takut pada lara Sementara semua rasa bisa kita cipta Jangan-jangan pencipta lagu ini juga seorang beraliran filsafat, yang juga pernah belajar stoisisme? Di buku ini ada beberapa tokoh yang diwawancara, salah satunya psikolog, jadi yang dibicarakan masalah yang nyambung dengan keseharian dan ada solusi, ada pemahaman yang mengarah ke solusi, atau kita bisa bilang, akar masalah. Poin yang bagus dari seorang psikolog dan saya coba sarikan dalam Bahasa anak SD ya, hehe. Orang yang Tangguh itu memiliki dukungan dari lingkungan social, bisa keluarga, teman, dan lainnya. Orang yang Tangguh itu bisa jadi karena memiliki keterbatasan, misalnya tidak dimanja, sehingga daya juangnya lebih kuat. Hal ini bagi pendidik pun penting, bisa ayah atau ibu, bahwa bagaimana pun, anak pasti paling membutuhkan dukungan dalam keluarga entah itu saat berprestasi atau saat menghadapi masalah. Sebagai teman pun, kita bisa ikut mengingatkan teman kita, selain wujud kepedulian, kita turut dalam system yang mendukung teman kita untuk bertahan (survive) saat ada masalah. Membaca buku ini membuat saya berpikir ulang, membaca ulang kalimat dengan lebih lambat untuk benar-benar menangkap maksudnya—karena penting. Memberikan pemikiran baru, pemahaman baru, dan waktu rileks. 

SAMBUNGAN FILOTERAS 

Waa, bagian HM wawancara Llia--seorang wanita Indo yang Stoik—di situ ada kata-kata bijak, yang selalu saya ikuti yaitu trust the divine time. Stoa mengajarkan kita untuk santuy, woleus—suelow (Jawa punya dong) dan jangan biarkan media sosial menarik energi atau perhatian kita terlalu banyak. Sikapi mana yang penting dan fokus ke solusi, marah itu nyampah. (Ya tapi belajar dulu, ini kan tulisan, kayaknya gampang, hehe) Balas dendam terbaik adalah tidak menjadi sama seperti sang pelaku (Katanya Marcus Aurelius). 

Kemarahan adalah gila sementara, perasaan marah jauh lebih merusak ketimbang apa yang membuat marah. Standar manusia adalah menerima dan menolerir kehadiran manusia lainnya, berusaha hidup rukun, namun akan selalu ada orang “beracun” dalam hidup yang mungkin perlu dihindari. Orang akan sangat marah saat hartanya diambil, rela bertahun-tahun berantem, tapi lebih parah lagi, orang-orang rela untuk memberikan waktunya untuk orang-orang yang tidak membuat hidupnya lebih baik (hubungan-hubungan beracun). 

Bagian wawancara dengan Cania, Stoisisme ini disebut sebagai self control atau pengendalian diri. Ada adagium (peribahasa) yang intinya 90% permasalahan adalah bagaimana kita bereaksi terhadap masalah itu yaitu fokus pada solusi. Menari-- kata-kata Cania yang boleh dipinjam ya, “…aku bisa react in the right manner….”. Cania menempatkan diri ketika dia punya pendapat berbeda dan dia post di akunnya, dia mendapat bully, namun dia selalu menempatkan diri di situasi—bagaimana jika situasi buruk itu terjadi di aku—nah sebelum dia post pendapat di akun, dia berpikir hal itu dan dia riset ke akun-akun yang suering dibully, dia belajar baca komen negatif (atau bisa dibilang jahat; menyakiti) itu membuat dia siap untuk nanti kalau benar-benar dapat bully. Dan ini PENTING seperti sebuah tips, dia mencoba berdialog dengan orang yang membully dia (persepsi dia –dan juga Stoisisme adalah orang berkata begitu belum tentu dengan niat jahat, hanya karena mereka tidak tahu bagaimana sudut pandang kita). Respon mereka (pembully) yang berdialog dengan Cania jauh lebih sopan saat pertama kali disapa. Maka penting bagi yang dibully untuk menempatkan diri sebagai subjek di mata mereka (kalau saya tarik kesimpulan, berarti mau bicara atau speak up begitu ya? Masih agak bingung ini)

Flashback sebentar. Filosofi Teras ini muncul di akun-akun peninjau buku, dan saya sangat tertarik. Saya merasa harus mundur dulu karena siaran youtube Henry Manampiring tentang jawaban dia--cinta dari sudut pandang Stoik, asli dulu “masa gitu?”, “apa bisa begitu?” Saya urungkan. Lalu ketika saya simpan bukunya, saya pun pernah baca beberapa halaman, dan saya mundur lagi dong, dari pengantarnya sudah, “….aduh Yunani ini kenapa masih gak masuk di pikiran saya?” Barulah ketika suatu saat saya panik, saya berusaha mencari pertolongan pertama, pertama saya baca buku lain yang lebih ke ‘mengingat Tuhan’ kemudian saya mencoba membuka Filosofi Teras. Saya terus membaca sebagai upaya distraksi agar bisa fokus. Lalu saya sudah tenggelam dalam keasikan memahami bahwa Stoisisme tak seburuk itu, sangat-sangat nyambung dan menghibur. Lagi, Stoisisme ini berkebalikan sekali dengan judul-judul atau bacaan yang selalu ada positifnya, saat mendengar saja, ini terdengar lebih negatif, karena Stoik itu mengajari kita untuk melihat hal buruk apa yang bisa terjadi, jadi kita lebih ke sedia payung sebelum hujan. Benar-benar berbenturan dengan saran yang selalu menyuruh untuk berpikir positif. 

Muter dulu sebentar 

Mbak Cania kenapa begitu pedes tapi bener kalau bicara, karena dia memang dibesarkan dengan latar belakang yang pernah jatuh miskin dan didikan ibunya sebagai orangtua tunggal itu fokus pada solusi. Apalagi dia juga sudah mendapat bully sejak SMP dan lebih gigih berjuang karena keterbatasan keadaan sejak jatuh miskin. Saya sempat berpikir di sini, kalau orang yang terbatas memang lebih gigih dan berjuangnya itu gak main-main ya, misal tidak ada listrik, kita mikir dulu, penerangan apa yang bisa digunakan? Alhamdulillah kita hidup di masa ada listrik, nyala lampu putih, tetapi gempuran zaman semakin tidak waras. Makanya dulu guru SMP saya selalu mengucapkan “Salam Waras” apakah karena pada saat itu beliau sudah merasakan bahwa banyak murid-muridnya mulai tidak waras, hehehe. (Dalam artian melanggar peraturan dan harus dihukum, atau mungkin di masa depan banyak orang yang mulai tidak waras karena social media). 

Setiap membaca bagian dari buku ini, saya seperti selalu berada di halaman yang menjawab pertanyaan saya tentang masalah hidup yang saya hadapi di hari ini, tepat hari ini. Seperti membaca sebuah kitab. What doesn’t kill you only makes you stronger, kata buku ini. Melihat kesempatan sebagai berkah untuk bersabar, atau mengganti arah tujuan hidup. Stoa ingin kita bermain panjang dalam mode bertahan untuk menaklukkan kesulitan dan kesusahan yang melanda. Tidak ada teori, tips, atau kecanggihan apapun, cukup bertahan hingga lawan lelah. Analoginya begitu. ‘Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan’ (Musonius), rupanya kalimat ini pernah beberapa kali terlontar dari seorang teman saya, kala itu saya masih SMA, dan rupanya ini kalimat filsafat to? Baru paham. Rupanya ajaran-ajaran begini yang mestinya dipakai untuk generasi saat ini, kenapa anak muda kehilangan arah, karena mereka kurang membaca juga, mungkin buku memang bisa sangat menginspirasi kita dalam menjalani kehidupan (untukmu gen milenial dan Z) 

Ada tips parenting juga.

Anak dibiasakan bernalar sejak kecil dengan mengetahui alasan dari setiap pertanyaan/permintaannya, dan juga belajar mempertimbangkan sesuatu tadi, dalam hal ini anak bisa mencari informasi dan data sesuai kemampuan pada usianya. Memuji anak (dengan pemikiran bertumbuh), memuji yang difokuskan pada usaha anak, seperti “kamu pasti sudah berusaha ya untuk mengerjakan ini….” Saat kita fokus memberi pujian, “Wah nilai kamu bagus, kamu memang pintar…” ini akan melahirkan sifat fixed midset atau pemikiran yang tidak bertumbuh, karena anak menganggap dirinya pintar maka mungkin dia menghindari kegagalan dan tidak mau belajar lebih. Kecerdasan adalah di luar kendali, sementara usaha di bawah kendali si anak. Inilah maksud penerapan Filosofi Teras dalam ilmu menjadi orangtua. Ada pilihan dalam hidup anak yang merupakan separuh kendali orangtua dan separuh lagi milik si anak. Saat anak memilih jurusan kuliah atau pasangan hidup, orangtua hanya bisa sampai batas memberi nasehat dan pandangan atau pengalaman hidup bagi si anak, sehingga anak dapat mempertimbangkan, namun pilihan terakhir si anak adalah kendali si anak itu sendiri. Memberikan wadah untuk anak berinteraksi sosial sebagai mahkluk sosial (interaksi sosial sebagai soft skill atau keterampilan). Anak dapat merasakan bagaimana berinteraksi dengan orang lain maupun cara-cara mengatasi konflik. Untuk anak introver dan ekstrover tentu beda dalam menyikapinya. Sejak anak usia dini, hal paling dikhawatirkan orangtua adalah fokus anak, kata psikolog anak di buku ini. Padahal di usia dini, sekitar 5 menit saja sudah bisa fokus belajar itu sudah aman, tidak ada masalah. Saat anak diberi instruksi dan dia bisa menerima dan menjalankan sesuai instruksi, itu juga aman. Banyak orangtua ingin anaknya fokus untuk akademis yang bagus (tuntutan orangtua dalam akademis anak sebegitu besarnya). Apa yang orangtua pilih juga mempengaruhi anak, serta ada yang perlu dirubah dari orangtua apabila ingin anak berubah. Di usia dini itu anak dikenalkan dengan suara dengan bermain kata, bukan menghafal huruf A, B, C. Mungkin karena memang kalau masuk SD harus sudah bisa baca itu ya? Memfasilitasi anak untuk mengenal hobinya dan memaksa anak menjadi ini itu adalah hal yang berbeda. Ketika anak suka dengan hobinya, dia akan menyukai perjalanannya, dia merasa senang dan hasilnya, dia belajar sesuatu, beda kalau itu terpaksa. Biasakan anak untuk mengenal dirinya dan berusaha memilih sesederhana “Mau pakai baju apa hari ini?” Waaa, di bagian parenting ini intinya ilmu untuk melepas apa yang tidak bisa dikendalikan oleh orangtua, misal apakah nanti bisa memberi ASI ke anak, atau karena sesuatu hal tidak bisa memberi ASI makanya diganti susu formula. Poinnya adalah menerima anak bagaimana pun dia agar dia merasa aman bersama kita. Jadi orangtua mungkin, tidak tahu seharian perasaan apa saja yang sudah dirasakan anak, hal apa yang sudah dia lalui sepulang sekolah, wajar kalau dia lelah dan ketika di rumah dia berbuat kesalahan, intinya jangan dimarah-marahi. Keren banget ini. 

Rupanya buku Filosofi Teras ini juga berisi tentang permasalahan dunia seperti genosida. Jika kita melangkah sendiri, kita bisa jadi kalah suara, dan genosida tidak mungkin berada dalam kendali kita. Tetapi ada prinsip dalam Stoisisme bahwa kita juga selaras dengan alam, tidak berpangku tangan bila terjadi masalah dunia. Maka dengan melangkah bersama-sama, mungkin berjuta orang, apa yang sebelumnya tidak berada dalam kendali “saya”, dapat berubah dalam kendali “kita/warga dunia”. Dan ini sangat relevan saat adanya genosida di Palestina, terlepas apapun latar belakang agama, dst dari diri kita masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELESTARIKAN HEWAN DAN TUMBUHAN LANGKA